Tugas 3.2.a.6. Demontstrasi Kontekstual – Modul 3.2

Oct 31, 2022

 


Dalam kegiatan Demontrasi Konstektual Modul  3.2 dengan tema : Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, Calon Guru Penggerak  diminta melakukan kegiatan analisis video tentang :

1. Visi dan prakarsa perubahan. 

2. Mengidentifikasi kegiatan berdasarkan alur BAGJA. 

3. Mengidentifikasi peran pemimpin pembelajaran

4. Menganalisis modal utama yang dapat dimanfaatkan.

Setelah melihat tontonan dari video, visi sekolah yang dapat dimunculkan adalah "Terwujudnya Sumber Daya Manusia yang Mandiri,  Kolaboratif, Inovatif yang dilandasi iman  dan takwa serta Sekolah yang menyenangkan ". Adapun prakarsa perubahan yang dilakukan oleh guru dalam tayangan video tersebut adalah mewujudkan kelas yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik untuk belajar.



Hasil analisis terhadap video  berdasarkan pada alur BAGJA sebagai berikut :

Tahap pertama adalah B-uat pertanyaan utama, dalam video tersebut pertanyaan utama yang dimunculkan "Bagaimana cara merubah kelas  yang tidak  nyaman bagi peserta didik menjadi kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar". 



Langkah tindakan yang dapat dilakukan yaitu melakukan sharing tukar pendapat serta berkolaborasi dengan rekan sejawat dalam merumuskan kalimat pertanyaan utama prakarsa perubahan, membuat pertanyaan pemantik kepada siswa tentang kelas yang nyaman dan menyenangkan bagi mereka, dan membuat pertanyaan "Penyemangat Belajar" kepada siswa.

Langkah kedua A-mbil pelajaran, guru mengajukan pertanyaan "setelah  mengamati tulisan di papan tulis,  tentang penyemangat belajar kira-kira apa yang muncul di pikiran mereka, kemudian mereka memberikan  tanggapan terkait apa yang mereka inginkankan. Jika kita mengamati kelas yang ada di sekitar lingkungan yang ada, Kelas seperti apa yang membuat siswa nyaman dan menyenangkan" . untuk menjawab pertanyaan tersebut saat istirahat ibu guru meminta siswa untuk melakukan kegiatan observasi ke kelas 2 dan kelas 6 yang sudah berhasil. Mereka dapat menanyakan apa yang ingin mereka ketahui tentang kelas yang nyaman dan  menyenangkan.


Pertanyaan selanjutnya adalah "Bagaimana mengatur kelas yang nyaman dan menyenangkan?". Pertanyaan berikutnya yang dapat diambil sebagai berikut (1) Kegiatan apa yang dilakukan untuk mendapatkan kelas yang nyaman dan menyenangkan?, (2) Apa yang disukai oleh siswa tentang kelas yang menyenangkan?, dan (3) Apa yang menyenangkan dari kelas sendiri?. Langkah atau tindakan yang diambil oleh guru berupa kegiatan tanya jawab dengan siswa tentang kriteria kelas yang nyaman dan menyenangkan, dan mengiventarisasi kelas sendiri yang sudah baik dan menyenangkan.

Langkah ketiga adalah G-ali mimpi. Pada  kegiatan gali mimpi  ibu guru menggunakan Teknik  “STOP”   Pertanyaan yang dapat dibuat adalah (1) bagaimana bayangan seperti apa kelas yang nyaman dan menyenangkan?, (2)  kelas seperti apa yang kalian impikan?, dan (3) Gambarkan kelas yang nyaman dan menyenangkan yang dapat menjadi penyemangat belajar? Hal ini terlihat dari tindakan guru meminta siswa memejamkan mata dan meminta siswa membayangkan kelas seperti apa yang nyaman dan menyenangkan sehingga dapat menjadi penyemangat belajar. Langkah lainnya dengan melakukan kegiatan diskusi kelompok untuk menggambarkan lingkungan kelas yang nyaman, menyenangkan, dan dapat menjadi penyemangat dalam belajar sesuai dengan bayangan dari siswa dan dilanjutkan kegiatan presentasi kelas impian oleh siswa. Guru mencatat informasi kelas impian yang disampaikan oleh siswa.



Langkah keempat adalah J-abarkan rencana, ini terlihat dengan pertanyaan "Apa yang harus kita lakukan untuk kelas impian kita?" dan "Apa yang dibutuhkan untuk mewujudkan kelas impian?" Tindakan yang dilakukan adalah kegiatan diskusi dan kolaborasi dengan murid dalam menginventarisasi usulan dari siswa tentang kelas impian mereka. 



Langkah terakhir adalah A-tur eksekusi. Pada langkah ini pertanyaan yang dimunculkan adalah "Kapan waktu yang tepat dalam mewujudkan kelas impian?" dan menanyakan kesiapan siswa dalam mewujudkan kelas impian. Langkah yang diambil dalam mengeksekusi tindakan adalah dengan membentuk empat kelompok kerja dengan tugas yang ditetapkan, memberikan semangat dan motivasi kepada siswa bahwa kita pasti bisa. Pembagian tugas kelompok terdiri dari membersihkan kelas, membuat hiasan dinding, menyusun bangku, dan menyusun buku. Langkah berikutnya adalah kegiatan pembersihan kelas, menata bangku, memasang hiasan di dinding, dan menata buku. Guru memberikan apresiasi kepada siswa setelah selesai membuat ruang kelas menjadi nyaman dan menyenangkan.



Modal utama yang dimanfaatkan pada tayangan video tersebut terdiri dari; (1) modal manusia, (2) modal sosial, (3) modal fisik,  (4) modal lingkungan/alam dan (5) modal finansial. Modal manusia terlihat dengan adanya guru yang berpihak pada murid dengan ditunjang kolaborasi dengan murid yang mandiri dan kreatif dalam mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan. Modal sosial terlihat pada kegiatan hubungan sosial dengan rekan sejawat sehingga mampu membuat program yang bagus. Modal fisik terlihat dengan adanya ruang kelas yang tersedia untuk diubah menjadi kelas yang nyaman dan menyenangkan. Modal lingkungan/alam terlihat pada kegiatan menghias kelas yang menggunakan beberapa bahan dari alam. Sedangkan modal finansial terlihat dari dukungan guru, sekolah, dan orang tua dalam menyediakan peralatan dan bahan yang digunakan untuk menghias kelas sehingga terbentuk kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk kegiatan pembelajaran


 


Tugas 3.1.a.8. Koneksi Antar Materi; Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Oct 23, 2022

Mengajarkan anak berhitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik

( Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best )

=Bob Talbert=



Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Sebagai guru apa yang kita lakukan selama in harus mencerminkan suatu tindakan yang mengarah kearah kebajikan, karena guru adalah figur yang dekat dengan siswa, apa yang dilakukan oleh guru pastinya akan diadopsi dan juga akan ditiru,, ibarat pepatah, baik buruknya murid, tergantung juga oleh apa yang dilakukan dan diajarkan oleh guru.

Pada kesempatan ini, saya akan membahas tentang Tugas Koneksi Antar Materi Modul 3.1.a.8. terkait Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran. Dalam Tugas ini  ada beberapa pertanyaan yang akan saya coba membahasnya satu per satu.


1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?
Pratap Triloka yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara yang terkenal dengan semboyan ing Ngarso sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri Handayani yang mengandung makna yaitu di depan memberi teladan, di tengah membangun motivasi/dorongan, di belakang memberi dukungan. Ibarat seorang petani kita dalah orang yang mempunyai kewajiban bagaimana sawah akan kita garap, tanaman apa yang akan kita tanam, bagaimana proses dari awal sampai akhir terjadi, yang mana tujuannya dalah untuk mendapatkan kebahagian.
Sebagai pendidik, kita harus menyadari bahwa setiap anak membawa kodratnya masing-masing. Kita hanya perlu menuntun segala yang ada pada anak, mengarahkan dan memberi dorongan supaya anak dapat berproses dan berkembang. Dalam proses menuntun, anak akan diberi kebebasan, dalam hal ini guru sebagai pamong memberikan tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah serta membahanyakan dirinya serta anak menemukan kemerdekaannya dalam belajar sehingga akan berdampak pada pengambilan keputusan yang tepat dan bertanggung jawab. Dalam hal tersebut, maka guru harus mampu mengambil keputusan yang berpihak pada murid serta bijaksana. Berdasarkan hal tersebut guru sebagai pemimpin pembelajaran sudah sepatutnya guru dalam menerapkan pengambilan keputusan yang berpihak pada murid,  bisa berpegang pada 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip penyelesaian dilema, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Pada dasarnya manusia dalah  ciptaaan Tuhan yang paling sempurna,  disini selain diberi fisik yang lengkap, manusia juga dilengkapi dengan akal pikiran dan hati  nurani. Sehingga manusia seyogyanya bisa tahu membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral. Akal dan moral dua dimensi manusia yang saling berkaitan. Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral. Karsa merupakan suatu unsur yang tidak terpisahkan dari perilaku manusia. Karsa ini pun berhubungan dengan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang dianut oleh seseorang, disadari atau pun tidak.
Nilai-nilai yang tertanam dalam diri manusia, sangat berpengaruh sekali dalam pengambilan keputusan, dimana hal ini disebut dengan dilema etika. Dalam pengambilan keputusan kadang kita dihadapkan pada dua hal yang harus kita pilih. Nah… dalam pengambilan keputusan ini kitab isa menggunakan 3 prinsip dalam pengambilan keputusan. Ketiga prinsip tersebut adalah:
Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
Sebagai Guru Penggerak/pendidik , tentunya ada beberapa nilai yang harus dipegang seperti nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid. Untuk dapat mengambil keputusan yang tepat diperlukan nilai-nilai atau prinsip, pendekatan, dan langkah-langkah yang benar sehingga keputusan tersebut merupakan keputusan yang paling tepat dengan resiko yang paling minim bagi semua pihak, terutama bagi kepentingan /keberpihakan pada anak didik kita.

3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya?
Pembimbingan yang telah dilakukan oleh pendamping atau fasilisator sangat membantu saya dalam  proses berlatih mengevaluasi dalam pengambilan keputusan yang telah saya ambil. Bagamana  car akita mengidentifikasi sebuah  masalah, bagaimana car akita menggali informasi dan car akita agar  keputusan  yang kita ambil  bisa dipertanggungjawabkan kemudian  hari, apakah  keputusan yang saya ambil sudah berpihak kepada murid, sudah sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal, apakah keputusan yang diambil bermanfaat untuk banyak orang dan apakah keputusan yang diambil tersebut dapat dipertanggung jawabkan.
Sesi coaching membantu guru untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki dan memecahkan permasalahan saat menjadi pemimpin pembelajaran, sehingga pada saat menentukan suatu permasalahan dilema etika seorang guru mampu mengidentifikasi suatu permasalahan dengan tehnik coaching, sehingga mampu menghasilkan keputusan yang tepat dan berpihak pada murid.

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?
Dalam melaksanakan proses Pendidikan, pendidik dalam hal ini guru harus mampu melihat dan memahami kebutuhan belajar muridnya serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi sosial emosional seperti kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan ketrampilan berhubungan sosial (relationship skills). Sehingga diharapkan proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara sadar penuh (mindfull), terutama sadar dengan berbagai pilihan , konsekuensi yang akan terjadi, dan meminilisir kesalahan dalam pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri untuk menghadapi konsekuensi dan implikasi dari keputusan yang kita ambil karena tidak ada keputusan yang bisa sepenuhnya mengakomodir seluruh kepentingan para pemangku kepentingan. Namun tujuan utama pengambilan selalu pada kepentingan dan keberpihakan pada anak didik . 

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.
Seringkali dalam kasus yang terjadi berkaitan erat dengan  masalah moral. Disini sebagai pendidik kita harus bisa membedakan kasus tersebut apakah dilemma etika atau bujukan moral. Memang kadang tidak m udah bagi kita  untuk memutuskan permasalah dari kasus ini. Karena kadang kita dihinggapi rasa bersalah jika keputusan yang kita ambil bertolak belakang dengan norma yang ada.
Dengan nilai- nilai yang dimiliki seorang pendidik tersebut, baik nilai inovatif, kolaboratif, mandiri dan reflektif seorang pendidik dapat menuntun muridnya untuk dapat mengenali potensi yang dimiliki dalam mengambil keputusan dan mengatasi masalah yang dihadapi sehingga dengan nilai- nilai dari seorang pendidik tersebut, yang merupakan landasan pemikiran yang dimiliki akan cenderung pada prinsip " melakukan demi kebaikan orang banyak, menjunjung tinggi prinsip- prinsip/ nilai- nilai dalam diri dan melakukan apa yang kita harapkan orang lain akan lakukan kepada diri kita. Maka seorang pendidik akan dapat mengambil sebuah keputusan yang bertanggung jawab melalui berbagai pertimbangan dan langkah pengambilan dan pengujian sebuah keputusan terkait permasalahan yang terjadi.

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Dalam pengambilan keputusan tentunya kita sering dihadapkan pada situasi dan kondisi yang  tidak tentu, dimana keputusan yang akan kita ambil harus berdampak ke hal yang baik. Tetapi  kadang keputusan tersebut juga berdampak  ke hal yang tidak  baik. Hal  ini mungkin juga dipengaruhi oleh beberapa factor, mungkin keadaan kondisi lingkungan, kondisi keamanan ataupun kenyamanan. Hal yang bisa lakukan adalah dengan menerapkan 3 prinsip, 4 paradigma d an 9 langkah pengambilan  keputusan, dengan  melakukan uji benar dan salah, dapat menjadi pertimbangan kita d alam  mengambil keputusan, sehingga keputusan yang akan kita ambil nanti  membawa dampak yang positif, terciptanya lingkungan yang postif, kondusif dan  aman.

7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Setiap pengambilan keputusan pasti ada tantangan, dikarenakan  salah satunya mungkin adalah  rasa tidak percaya dengan keputusan yang akan kita  ambil, rasa justifikasi/ ungkapan rasa yang  tidak senang kepada diri kita. Adanya unsur ancaman juga tantangan yang akan dihadapi. Tentunya akan sangat sulit kalau hal ini sudah tertanam di diri siswa, guru/masyarakat/lingkungan. Pendekatan persuasive dan penjelasan sejelas-jelasnya adalah upaya yang bisa  kita lakukan sebagai cara merubah paradigma yang ada di lingkungan kita, sehingga saat kita menerapkan prinsip, paradigma dan pengambilan bisa tepat sasaran.  Kesulitan-kesulitan di atas selalu kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan





8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?
Keputusan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita sangat erat  sekali. Pendidik  adalah  orang  yang sangat dekat dengan murid, diparadigma  saat ini, segala sesuatu ayng kita lakukan haruslah berpihak pada murid. Dalam pembelajaran yang kita  lakukan sudah seyogyanya kita memberi kesempatan kepada murid kita sesuai dengan alam dan kodrat zamannya, kita tidak  boleh lagi memaksanakan kehendak  kita kepda murid, tetapi bagaimana kita bisa memberikan kemerdekaan kepada murid untuk mengembangkan bakat dan minat yang dimiliki oleh murid kita.

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Untuk mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, kita harus benar- benar memperhatikan kebutuhan belajar murid. Jika keputusan yang kita ambil sudah mempertimbangkan kebutuhan murid maka murid akan dapat menggali potensi yang ada dalam dirinya dan kita sebagai pemimpin pembelajaran dapat memberikan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajarnya dan menuntun murid dalam mengembangkan potensi yang dimiliki sehingga keputusan kita dapat berpengaruh terhadap keberhasilan dari murid di masa depannya nanti. Pendidik yang mampu mengambil keputusan secara tepat akan memberikan dampak akhir yang baik dalam proses pembelajaran sehingga mampu menciptakan well being murid untuk masa depan yang lebih baik.

10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Kesimpulan akhir yang dapat ditarik dari pembelajaran modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran terkait dengan modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya, merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan untuk memerdekakan murid dalam belajar, Sebagaimana dijelaskan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa Pendidikan bertujuan menuntut segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai sebuah keselamatan dan kebahagiaan belajar, baik untuk dirinya sendiri, sekolah maupun masyarakat.
Dalam melaksanakan proses Pendidikan, seorang pendidik harus mampu melihat dan memahami kebutuhan belajar muridnya serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Untuk dapat mengambil sebuah keputusan dengan baik maka keterampilan coaching akan membantu kita sebagai pemimpin pembelajaran dengan pertanyaan- pertanyaan untuk memprediksi hasil dan berbagai opsi dalam pengambilan keputusan.
Keterampilan coaching ini dapat membantu murid dalam mencari solusi atas masalahnya sendiri tidak sebatas pada murid, keterampilan cocaching dapat diterapkan pada rekan sejawat atau komunitas terkait permasalahan yang dialami dalam proses pembelajaran. Selain itu diperlukan kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills) untuk mengambil keputusan dan proses pengambilan keputusan diharapkan dapat dilakukan secara sadar penuh(mindfullness), sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada.

11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
Pemahaman saya terkait konsep di modul 3.1 ini  s angat membantu saya dalam proses pengambilan keputusan. Sebelum saya mempelajari modul ini, dalam setiap kali saya menghadapi sebuah kasus, sangat merasa kebingungan harus bagaimana dan seperti apa keputusan yang akan saya buat. Dengan mempelajari modul 3.1 sekarang saya mulai memahami cara yang harus saya lakukan, baik dalam penentuan prinsip pengambilan keputusan, paradigma mengambil keputusan ataupun 9 langkah yang harus saya  lakukan untuk memecahkan dan mengambil sebuah keputusan.

12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Pernah, apa yang saya lakukan hanya terbatas atas belas kasihan, tidak melanggar norma yang berlaku, tentu sangat berbeda, setelah saya mempelajari modul 3.1 saya banyak belajar dan paham tindakan apa yang harus saya lakukan

13. Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Dampak modul 3.1 sangat besar dalam diri saya, perubahan yang dapat saya lakukan adalah setiap pemecahan masalah (kasus) saya bisa menerapkan konsep prinsip pengambilan keputusan, paradigma mengambil keputusan ataupun 9 langkah pengambilan keputusan

14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Sangat penting, baik secara individu ataupun sebagai seorang pemimpin. Dalam pengambilan keputusan hendaknya tetap melakukan identifikasi masalah, apakah masalah ini berkaitan dengan dilemma etika atau bujukan moral. Prinsip/paradigma/9 langkah pengambilan keputusan di modul ini dapat digunakan sebagai cara dalam pemecahan masalah baik sebagai individu ataupun sebagai seorang pemimpin.


3.1.a.6. Demontrasi Kontekstual - Modul 3.1

Oct 21, 2022


CGP dapat melakukan suatu analisis atas penerapan proses pengambilan keputusan berdasarkan pengetahuan yang telah dipelajari tentang berbagai paradigma, prinsip, penhgambilan dan pengujian keputusan di sekolah asal masing-masing dan di sekolah/lingkungan  lainnya

Dokumentasi : WAWANCARA DENGAN BAPAK DIDIK HARI P, S.E

Kepala SMK PGRI 6 Ngawi


1.        Selamat pagi pak Didik, mohon  ijin mengganggu waktu pak Didik

Jawab :

Oh iya pak aan, ndak apa-apa, ada yang bisa saya bantu….

 

2.   Mohon ijin pak, kami dapat tugas di CGP untuk mewawancarai Kepala Sekolah berkaitan dengan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh bapak kepala sekolah berkaitan dengan masalah yang mungkin ada di sekolah bapak

Jawab : oh iya, pak aan ….. silahkan

 

3.    Dari serangkaian kegiatan yang ada, pastinya ada/pernah bapak selaku kepala sekolah dihadapkan pada persoalan yang dimana disitu bapak harus mengambil tindakan yang terbaik dalam mengambil keputusan, kira-kira masalah apa ya pak didik

Jawab :

Iya pak aan, tentu… banyak sekali sebenarnya masalah yang ada disekolah, salah satunya yaitu pernah terjadi yaitu tentang pemilihan lokasi saat kita dulu mau mengadakan tour sekolah. Disini ada guru yang inginnya tour di pantai (tidak mengajak keluarga), tapi Sebagian guru keinginannya tour tidak jauh tapi bersama keluarga.

 

4.   Selama ini, bagaimana Anda dapat mengidentifikasi kasus-kasus yang merupakan dilema etika atau bujukan moral?

Jawab : 

Dengan mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan masalah yang berhubungan dengan etika sopan santun serta norma sosial caranya menentukan siapa saja pihak yang terlibat mengumpulkan fakta-fakta yang relevan menguji kebenaran melakukan prinsip resolusi dengan tiga prinsip pengambilan keputusan yang berbasis hasil akhir peraturan dan rasa Peduli 3 melakukan investigasi 4 membuat keputusan

 

5.   Selama ini, bagaimana Anda menjalankan pengambilan keputusan di sekolah Anda, terutama untuk kasus-kasus di mana ada dua kepentingan yang sama-sama benar atau sama-sama mengandung nilai kebajikan?

Jawab :

ü  dengan melakukan tindakan yang memiliki manfaat bagi orang banyak

ü  menjunjung tinggi prinsip-prinsip nilai dalam diri.

ü  melakukan apa yang anda harapkan orang lain harapkan sehingga orang lain akan lakukan pada diri Anda atau ada imbal balik

 

6.    Langkah-langkah atau prosedur seperti apa yang biasa Anda lakukan selama ini?

Jawab :

Mengambil keputusan dengan langkah pertimbangan bersama musyawarah yang mengarah pada kepentingan banyak orang menjunjung tinggi etika dan moral sesuai dengan visi

 

7.    Hal-hal apa saja yang selama ini Anda anggap efektif dalam pengambilan keputusan pada kasus-kasus dilema etika?

Jawab :

dengan menyusun langkah-langkah dan prosedur dalam mengidentifikasi kasus-kasus Dilema etika dan bujukan moral


8.     Hal-hal apa saja yang selama ini merupakan tantangan dalam pengambilan keputusan pada kasus-kasus dilema etika?

Jawab :

Berkaitan dengan kasus tentang lokasi dimana kita akan menentukan tempat tour, kami harus juga memerhatikan faktor fisik bapak-ibu guru, factor keluarga yang ditinggalkan saat tour. Sehingga saat kami melaksanakan tour nanti tidak ada kendala/masalah


9.    Apakah Anda memiliki sebuah tatakala atau jadwal tertentu dalam sebuah penyelesaian kasus dilema etika, apakah Anda langsung menyelesaikan di tempat, atau memiliki sebuah jadwal untuk menyelesaikannya, bentuk atau prosedur seperti apa yang Anda jalankan?

Jawab :

terjadwal dengan melakukan pemetaan dan tindakan harus langsung diselesaikan tetapi perlu proses untuk menentukan langkah keputusan

 

10.  Adakah seseorang atau faktor-faktor apa yang selama ini mempermudah atau membantu Anda dalam pengambilan keputusan dalam kasus-kasus dilema etika?

Jawab :

ada tentunya kepala sekolah dibantu oleh wakasek dan guru             serta tenaga administrasi

 

11.   Dari semua hal yang telah disampaikan, pembelajaran apa yang dapat Anda petik dari pengalaman Anda mengambil keputusan dilema etika?

Jawab :

dengan proses prosedur dan langkah-langkah sehingga akan memudahkan dalam mengambil keputusan


 Analisis/Refleksi hasil Wawancara :

Setelah wawancara yang kami lakukan, disini kami menganalisa beberapa hal yaitu :

Dalam kasus yang muncul di atas terjadi sebuah masalah, dimana masalah ini berkaitan dengan Paradigma individu vs Masyarakat. Dalam pengambilan keputusan yang dilakukan oleh Bapak Didik selaku Kepala Sekolah adalah Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking). Nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut adalah Kebutuhan individu (kelompok kecil) melawan Kebutuhan Masyarakat (kelompok  besar). Yang terlibat dalam situasi tersebut adalah Pak Didik (Kepala Sekolah),wakasek, bapak ibu guru (dewan Guru). fakta-fakta yang relevan dengan situasi tersebut antara lain : Tour diadakan 1 tahun sekali, Beberapa guru ingin ke pantai (tidak mengajak keluarga), Beberapa guru ingin tour lokasinya tidak jauh tapi bersama dengan keluarga. Adapun berkaitan Pengujian benar atau salah terhadap situasi :

-        Uji Legal :

Tidak ada (bukan pelanggaran hukum)

-        Uji Regulasi :

Tidak Ada, tidak melanggar aturan yang telah disepakati (tata tertib).

-        Uji Intuisi :

      Ada perasaan bimbang apabila tour diadakan diluar kota dan tidak bersama keluarga. Khususnya buat ibu guru yang mempunyai bayi/anak kecil.

-        Uji Publikasi :

      Tidak ada masalah, karena disini hanya berkaitan dengan lokasi yang ingin dituju

-        Uji Panutan :

      Dalam pengambilan keputusan ini, dalam kegiatan tour yang telah dilakukan oleh kepala sekolah terdahulu, biasanya beliau mengedepankan asas kepentingan umum daripada kepentingan beberapa orang.


Selain itu ada sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya untuk menyelesaikan masalah ini (Investigasi Opsi Trilemma) yaitu Dalam mengambil keputusan ini, Pak didik mencari jalan tengah, yaitu mengadakan kegiatan yang mana melibatkan keluarga, dan lokasi yang dipilih adalah pantai yang tidak jauh dari lokasi dan aman bagi semuannya. Tentunya keputusan ini juga dilakukan dengan cara bermusyawah untuk mencapai mufakat, dimana keputusan yang diambil adalah kesepakatan dari semua yang hadir ikut rapat dan  keputusan yang akan diambil adalah  mengadakan kegiatan yang mana melibatkan keluarga, dan lokasi yang dipilih adalah pantai yang tidak jauh dari lokasi dan aman bagi semuannya

Berdasarkan keputusan yang diambil oleh Pak didik, adalah menekankan pada hasil akhir, (end based thinking) dimana pak didik mengedepankan musyawah untuk mufakat. Hasil dari musyawarah adalah hasil dari kesepakatan semua orang ikut di rapat tersebut

















Dokumentasi : WAWANCARA DENGAN BAPAK FARID SAMSUL HADI, S.Pd, M.Pd 

(Kepala SMK PGRI 1 Ngawi)


Narasi Percakapan :

1.  Assalaamu Alaikum wr. wb. Selamat siang pak Farid, mohon  ijin mengganggu waktunya….

  Jawab : Wassalaamu Alaikum wr. wb. pak Aan, ndak apa-apa, ada yang bisa saya bantu….

 

2.  Mohon ijin pak, kami dapat tugas di CGP untuk mewawancarai Kepala Sekolah berkaitan dengan  pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pak Farid selaku Kepala SMK PGRI 1 Ngawi berkaitan dengan masalah yang mungkin ada di sekolah bapak……

     Jawab : oh iya, ….. silahkan

 

3.  Dari banyak kegiatan yang ada, pastinya ada/pernah bapak selaku kepala sekolah dihadapkan pada  persoalan yang dimana disitu bapak harus mengambil tindakan yang terbaik dalam mengambil keputusan, kira-kira masalah apa ya?

JawabIya, tentu… banyak sekali sebenarnya masalah yang ada disekolah, bagaimanapun sekolah yang ada masalah menandakan kalau sekolah tersebut hidup. Dan memang dari beberapa masalah yangada, bisa dikategorikan masalah, ringan, berat,

Salah satunya yaitu menangani siswa bermasalah. Disini saya merasa delima dalam bertindak, antara memberi pendidikan atau sanksi. Yaitu ada siswa yang berbuat mencuri alat-alat yang ada dibengkel. Alat yang di curi adalah mesin scaneer yang harganya sangat mahal. Pada saat rapat dengan dewan guru, banyak guru yang menginginkan anak ini dikeluarkan, karena tindakan anak ini adalah duri yang mungkin akan menular kepada siswa yang lain. Disatu sisi ada beberapa guru yang ingin anak ini di skorsing saja, padahal berdasarkan peraturan sekolah yang ada, anak ini seharusnya dikeluarkan


 

4.  Selama ini, bagaimana Anda dapat mengidentifikasi kasus-kasus yang merupakan dilema etika atau bujukan moral?

    Jawab : Dengan mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan masalah yang berhubungan dengan etika sopan santun serta norma. Menggali informasi dengan cara bertanya kepada pihak-pihak yang terlibat, mencari bukti yang akurat, serta data yang mungkin bisa dijadikan acuan sebagai tambahan bukti

menguji kebenaran melakukan prinsip resolusi dengan tiga prinsip pengambilan keputusan yang berbasis hasil akhir peraturan dan rasa Peduli 3 melakukan investigasi 4 membuat keputusan

 

5. Selama ini, bagaimana Anda menjalankan pengambilan keputusan di sekolah Anda, terutama untuk kasus-kasus di mana ada dua kepentingan yang sama-sama benar atau sama-sama mengandung nilai kebajikan?

Jawab : 

  • Dengan melibatkan beberapa pihak, menggali informasi dari pihak-pihak terkait
  • Mengedepankan azas musyawarah untuk mufakat
  • Meminta pendapat dari beberapa teman
  • Melihat duduk persoalan dari beberapa sudut pandang

 

6.  Langkah-langkah atau prosedur seperti apa yang biasa Anda lakukan selama ini?

    Jawab : Mengambil keputusan dengan langkah pertimbangan bersama musyawarah yang mengarah   pada       kepentingan banyak orang menjunjung tinggi etika dan moral sesuai dengan visi

 

7.  Hal-hal apa saja yang selama ini Anda anggap efektif dalam pengambilan keputusan pada kasus-kasus dilema etika?

   Jawab : Dengan menyusun langkah-langkah dan prosedur dalam mengidentifikasi kasus-kasus Dilema etika dan bujukan moral


 

8.  Hal-hal apa saja yang selama ini merupakan tantangan dalam pengambilan keputusan pada kasus-kasus dilema etika?

   Jawab : Berkaitan dengan kasus yang saya sampaikan tadi aturan yang berlaku di sekolah bila siswa melakukan pelanggaran menyangkut moral, maka sanksinya dikeluarkan. Namun, tindakan itu menjadi pertanyaan sebagian orang tua siswa  "Problemnya, kalau melepas anak yang bermasalah, maka akan hancur pondasi bangsa kita ini ke depan. Bisa saja anak tersebut malah tidak tertangani sehingga malah akan meresahkan di lingkungannya.


 

9.  Adakah seseorang atau faktor-faktor apa yang selama ini mempermudah atau membantu Anda dalam pengambilan keputusan dalam kasus-kasus dilema etika?

    Jawab : Ada tentunya, Dewan Penasehat Kepala Sekolah, Tim Pengembang Sekolah serta teman-teman waka juga ikut membantu.

 

10.  Terima kasih pak farid, kami rasa beberapa informasi sudah kami dapatkan, sekali lagi terimaksih atas waktu dan kesempatan yang diberikan kepada kami,khususnya pada saat ini, banyak sekali ilmu yang kami dapatkan setelah wawancara dengan bapak Kepala Sekolah, sekaligus saya mohon undur diri.

     Jawab : oh iya pak aan, sama-sama. Senang sekali bisa bertemu pak aan, jika ada yang ingin didiskusikan dengan saya sewaktu-waktu saya siap.

 

  ANALISIS/ REFLEKSI HASIL WAWANCARA :


 Setelah wawancara yang kami lakukan, disini kami menganalisa beberapa hal yaitu :

Dalam kasus yang muncul di atas terjadi sebuah masalah, dimana masalah ini berkaitan Paradigma keadilan (justice) vs belas kasihan (honesty)

Dalam pengambilan keputusan yang dilakukan oleh Bapak Faarid selaku Kepala Sekolah adalah Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking).

Nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut adalah nilai keadilan melawan nilai rasa kasihan. Yang terlibat dalam situasi tersebut adalah Pak Farid (Kepala Sekolah), siswa, Dewan Guru.

Fakta-fakta yang relevan dengan situasi tersebut antara lain :

~  siswa yang ketahuan mencuri di bengkel

~ tata tertib yang berkaitan dengan tindakan kasus ringan, sedang dan berat

Adanya tentang kesulitan menangani siswa bermasalah. Disini Pak Didik selaku Kepala Sekolah merasa delima dalam bertindak, antara memberi pendidikan atau sanksi. Yaitu ada siswa yang berbuat asusila, satu sisi merasa harus tetap mendidik para yang bermasalah dan di sisi lain ada anak didik lain yang perlu diselamatkan agar tidak terpengaruh perilaku yang menyimpang.

Adapun berkaitan Pengujian benar atau salah terhadap situasi :

-  Uji Legal : tidak ada

-  Uji Regulasi : Ada, melanggar aturan yang telah disepakati (tata tertib).

-  Uji Intuisi : Ada Ada perasaan bimbang untuk anak tersebut ke orang tua, terjadi pelanggaran peraturan namun kasihan terhadap siswa. Pak  farid sebagai Kepala Sekolah yakin dengan intuisinya bahwa anak tersebut akan bisa memperbaiki diri

-  Uji Publikasi : tidak ada kendala

-  Uji Panutan : Kepala Sekolah sebelumnya yang mengambil keputusan selalu berdasarkan azas nilai-nilai kebajikan universal dan musyawarah untuk mufakat.

(Investigasi Opsi Trilemma) yaitu Dalam mengambil keputusan ini, ternyata tidak bisa hanya mengacu pada aturan/tata tertib sekolah saja akan tetapi harus mengacu juga kepada UU perlindungan anak sehingga anak yang bermasalahpun juga harus dilindungi untuk mencapai masa depannya.

Berdasarkan keputusan yang diambil oleh Pak Farid, adalah menekankan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking), dimana pak farid mengedepankan pada kepedulian terhadap anak daripada peraturan yang ada.



RELEKSI WAWANCARA :

Berdasarkan 2 (dua) narasumber yang saya wawancarai, sejatinya ada hal yang menarik dalam pengambilan keputusan dimana dalam pengambilan keputusan diperlukan banyak pertimbangan-pertimbangan yang perlu dilakukan. Kedua narasumber mengatakan untuk mengidentifikasi suatu kasus itu termasuk ke dalam dilema etika atau bujukan moral maka diperlukan observasi lingkungan misalnya jika itu terkait antara satu individu dengan individu lain maka sebagai pemimpin perlu adanya melihat karakter pribadi individu-individu tersebut kemudian mendengar permasalahan dari kedua pihak secara langsung setelah itu mendengar pula saksi dari kedua pihak. Setelah dapat mengidentifkasi kasus tersebut maka langkah selanjutnya yang diambil adalah mengajak diskusi semua pihak yang terlibat.


Dari 2 narasumber yang kami wawancarai persamaan dalam pengambilan keputusan adalah : mereka mencoba mengidentifikasi permasalahan yang ada. Perbedaan yang muncul adalah disetiap pemecahan masalah ada perbedaan yang mendasar, dimana salah satu sumber kami (bapak kepala sekolah kami) bersedia melanggar peraturan yang ada (dalam kasus ini adalah anak yang mencuri di bengkel)



Jadi selama pengambilan keputusan, hal-hal yang perlu dilakukan adalah :

Mengidentifikasi kasus (melihat dan mendengar situasi lingkungan sekitar)

Melakukan pendekatan personal

Mengajak diskusi bersama

Mendengarkan semua permasalahan dari pihak-pihak yang terlibat

Mengambil keputusan bukan untuk kepentingan pribadi

Waktu pengambilan keputusan dilakukan se-segera mungkin, tidak menunda-nunda sehingga masalah menjadi rumit dan besar

Pengambilan keputusan dapat menjadi mudah diambil saat pihak-pihak terkait menyadari permasalahan-permasalahan mereka dan tidak merasa selalu benar. Kedua narasumber juga mengatakan se-darurat apapun situasinya, jika diperlukan pengambilan keputusan maka tetap harus koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Jadi tidak ada pengambilan keputusan langsung dari pimpinan tanpa mendengar dari pihak-pihak lain yang terlibat.


Kesimpulan : Sebagai pimpinan tidak boleh mengambil keputusan sepihak apalagi terburu-buru, selalu perhatikan identifikasi masalahnya terlebih dahulu. Jangan lupakan libatkan semua stakeholder terkait apapun dan bagaimanapun situasinya. Berada di posisi sebagai pemimpin dalam suatu instansi mengharuskan belajar untuk mendengar dan melihat dari segala sudut pandang tanpa memberatkan di satu pihak saja


No.

Tugas

Ada (A)/

Tidak Ada (TA)

1.

Isi: Hal-hal menarik apa yang muncul dari wawancara tersebut, pertanyaan-pertanyaan mengganjal apa yang masih ada dari hasil wawancara bila dibandingkan dengan hal-hal yang Anda pelajari seperti 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengujian, apa yang Anda dapatkan?

Ada.

Dalam setiap kasus yang kami tanyakan, disini bapak kepala sekolah mengalami dilemma etika, dimana saat dalam menentukan pemecahan masalah, beliau harus membuat perencanaan yang matang, memikirkan baik dan buruknya hasil dari keputusan yang akan dibuat nanti

2.

Isi: Bagaimana hasil wawancara antara 2-3 pimpinan yang Anda wawancarai, adakah sebuah persamaan, atau perbedaan. Kira-kira ada yang menonjol dari salah satu pimpinan tersebut, mengapa, apa yang membedakan?

Ada

Persamaan : Dalam pemecahan.masalah, beliau selalu mengidentifikasi dahulu masalah, kemudian mengadakan perencanaan yang matang, sebelum mengambil sebuah Tindakan.

Perbedaan : Perbedaan yang muncul adalah disetiap pemecahan masalah ada perbedaan yang mendasar, dimana salah satu sumber kami (bapak kepala sekolah kami) bersedia melanggar peraturan yang ada (dalam kasus ini adalah anak yang mencuri di bengkel)

3.

Isi: Apa rencana ke depan para pimpinan dalam menjalani pengambilan keputusan yang mengandung unsur dilema etika? Bagaimana mereka bisa mengukur efektivitas pengambilan keputusan mereka?

Dalam pengambilan keputusan di dahului dengan identifikasi masalah, perencanaan yang matang sebelum mengambil keputusan didahului dengan pengujian keputusan (trial error), sehingga disini nanti akan menghasilkan keputusan yang tepat. Dan berkaitan dengan efektifitas pengambilan keputusan tentunya dalam pengujian disini dapat menggunakan 9 langkah pengambilan keputusan

4.

Isi: Bagaimana Anda sendiri akan menerapkan pengambilan keputusan dilema etika pada lingkungan Anda, pada murid-murid Anda, dan pada kolega guru-guru Anda yang lain? Kapan Anda akan menerapkannya?

Ada.

Dalam pengambilan keputusan saya akan menggunakan pedoman 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langlah pengujian dalam pengambilan keputusan. Saat saya ada masalah dalam pemecahan kasus yang berkaitan dengan pengambilan keputusan.

5.

Teknis: Kejelasan suara/tulisan di video/blog naratif Anda, format apa yang akan gunakan, sudahkah Anda mengujinya/membacanya dan melihat hasilnya/membayangkan bila orang lain membaca tulisan Anda?

Ada. Dalam pembuatan blog ini, saya udah melakukan uji coba sebelum saya publikasikan, dimana saya melihat, membayangkan hasil yang akan dibaca oleh orang lain

6.

Teknis: Durasi waktu/panjang tulisan, apakah sudah diuji untuk maksimal dan minimal waktu berbicara, atau apakah sudah ditinjau isi dan panjang tulisan Anda, dan kepadatan/intisari  materi yang Anda ingin sampaikan?

Ada.

Dalam tulisan yang akan saya sajikan, sduah saya uji coba dan saya bayangkan sehingga apabila ada orang lain yang membaca akan segera mengerti maksud dari tulisan yang saya buat