Jurnal Refleksi Dua Mingguan Modul 3.3 Penyusunan Program yang Berdampak pada Murid

Nov 28, 2022

 

Pada Refleksi kali ini saya menggunakan model 4C


Pada jurnal refleksi dua mingguan ini, saya mendapat materi tentang Penyusunan Program yang Berdampak pada Murid. Materi ini bagi saya selaku CGP ditantang kreatifitasnya dalam membuat program yang tujuannya bagaimana kepemimpinan murid yang berprofil pelajar Pancasila terwujud. Menciptakan pelajar yang mempunyai karakter tersebut, harus diberi pengetahuan dan pemahaman terlebih dulu, kemudian melaksanakan program yang bersifat memberi latihan pada peserta didik secara berulang dan kontinyu yang harapannya dapat menjadi kebiasaan dan budaya positif. Program yang direncanakan dapat dilakukan dalam lingkup kelas maupun sekolah, tergantung kesiapan CGP dalam melaksanakannya. 




Mengenai ide dan gagasan yang diberikan oleh narasumber tidak ada yang berbenturan dengan teori atau kenyataan di sekolah. Semua tergantung kemasan dan cara melaksanakan, mengurangi hambatan dan memperlancar pelaksanaan program. Andaikan terdapat ketidaksesuaian antara rencana dan praktek karena sesuatu hal, maka perlu dicari penyebabnya terlebih dulu, kemudian baru merubah pendekatannya terhadap masalah tersebut. Gagasan tentang Penyusunan Program yang Berdampak pada Murid sudah sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dan konsep pendidikan di Negara Indonesia yang secara fakta berbeda-beda, namun telah sepakat Bhineka Tunggal Ika. 


Pada materi ini, bagi saya yang menarik adalah bagaimana menumbuh kembangkan kepemimpinan murid dengan konsep choice, voice dan ownership. Penjelasan inti dari konsep tersebut adalah sebagai berikut.

1. Voice : bahwa peserta didik itu pada hakekatnya mempunyai pendapat, ide, atau gagasan masing-masing, sehingga partisipasi gagasan ini perlu dimunculkan dan kemudian disatukan menjadi sebuah ide yang disepakati.

2. Choice: masing-masing peserta didik juga mempunyai pilihan masing-masing atas suatu objek. Maka, beri mereka kesempatan untuk memilih pilihannya masing-masing dengan dilandasi argumen yang rasional. Siapa yang argumentasinya rasional, ilmiah dan dapat diterima oleh orang banyak maka itu yang menjadi keputusannya.

3. Ownership: peserta didik juga dirangsang untuk mempunyai rasa memiliki terhadap hasil karyanya tersebut. Apabila peserta didik dalam memulai suatu program diperhatikan dan dilibatkan baik voice, choice dan ownership maka mereka akan mempunyai perasaan memliliki terhadap produk yang mereka ciptakan sendiri.

Setelah mempelajari konsep tersebut saya mulai memahami dan akan merubah pikiran yang awalnya belum memasukkan unsur voice, choice dan ownership maka setelah ini saya akan membuat program dengan memasukkan ketiga konsep tersebut dalam prosesnya dengan melibatkan peserta didik untuk dijadikan proses melatih kepemimpinan.





TUGAS 3.3.a.8 - KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.3 Penyusunan Program yang Berdampak pada Murid

Nov 19, 2022

 



MUQODIMAH

Suasana belajar dan lingkungan belajar sangat menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Murid memerlukan suasana belajar yang menyenangkan. Setiap murid memiliki kelas impian masing-masing, sehingga kita sebagai guru diharapkan bisa menuntun mereka mewujudkan kelas impian itu.

Dalam proses pembelajaran agar dapat mencapai tujuan perlu sebuah strategi. Banyak sekali kendala yang kita hadapi terkait dengan iklim belajar kita. Saat ini kita membutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak termasuk murid dan teman sejawat untuk menciptakan kelas impian yang berpihak pada murid. Saat ini bukan saatnya mendikte murid namun memberikan ruang ekspresi dan kebebasan berkreasi dalam menjalani pembelajaran. Murid memerlukan ruang bebas untuk eksplorasi minat dan bakatnya.


BAGAIMANA PERASAAN ANDA SETELAH MEMPELAJARI MODUL INI?

Perasaan saya, setelah mempelajari modul 3.3 tentunya sangat senang dan Bahagia. Karena di sini,  Saya belajar modul terakhir dan banyak hal yang menarik. Seperti ketika kita memiliki sebuah program atau ide akan sebuah program yang akan dikembangkan di sekolah, haruslah bermula dari pemetaan aset atau sumber daya di sekolah. Barulah sebuah program akan lebih terarah memiliki tingkat kesuksesan dan keberhasilan yang tinggi setelah melakukan pemetaan terhadap aset atau sumber daya sekolah. Barulah sebuah program yang berdampak pada murid bisa direncanakan berbasis aset yang ada. Berikut adalah yang membantu dalam merencanakan sebuah program yang berdampak pada murid di sekolah,  antara lain : tahapan kerja, 7 aset atau modal, tipe resiko dan 12  pedoman MELR


Apa intisari yang anda dapatkan dari modul ini?

Modul 3.3 merupakan modul terakhir dari rangkaian modul dalam Diklat calon guru penggerak yang berhubungan dengan praktik di lapangan yaitu suatu program yang berdampak pada murid guna meningkatkan keberpihakan pada murid dengan menguatkan aset yang dimiliki, mengajarkan murid, mendorong kebermaknaan dan mengimplementasikan kepemimpinan murid secara kontekstual.

Kepemimpinan murid adalah bagaimana murid mengambil peran aktif dalam pendidikan kepemimpinan murid. Itu mengacu pada tiga hal penting yaitu : 

Voice : memberikan kesempatan murid untuk bersuara atau menyampaikan pendapat.

choice : memberikan kesempatan murid untuk mengkonsep program kegiatan maupun menyusun struktur kegiatan. 

Ownership :  memberikan kesempatan murid untuk menjalankan rangkaian kegiatan sesuai dengan arahan dari guru


Apa keterkaitan yang dapat Anda lihat antara modul ini dengan modul modul sebelumnya?


MODUL 1.1 - FILOSOFI KHD

Peran guru adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada murid sehingga mereka bisa selamat dan bahagia sebagai individu, masyarakat. Dalam pengelolaan program yang berdampak pada murid haruslah menitikberatkan pada keterlibatan murid dan berorientasi pengembangan potensi (kodrat anak). Mengembangkan keterampilan atau kepemimpinan dalam diri murid sehingga bermanfaat untuk mereka, baik sebagai individu maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam Modul ini, penghambaan pada murid lebih ditekankan pada bagaimana melihat murid sebagai pribadi yang utuh dan menuntun murid sesuai kodratnya dengan pengelolaan program-program yang berdampak pada murid


MODUL 1.2 – NILAI DAN PERAN GURU PENGERAK

Menitikberatkan pada dasar nilai atau pedoman seorang guru dalam pengelolaan program yang berdampak pada murid. Nilai-nilai Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif dan Berpihak pada murid merupakan nilai-nilai yang harus dipedomani dalam menyusun program yang berdampak pada murid. Selain itu guru penggerak tidak hanya berperan sebagai pemimpin dalam pembelajaran di kelas namun memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin dalam hal pengelolaan program yang berdampak pada murid di sekolah


MODUL 1.3 – VISI GURU PENGGERAK

Dalam merencanakan dan mengelola program yang berdampak pada murid dilakukan dengan menggunakan pendekatan Inquiry Apresiatif model BAGJA dengan terlebih dahulu memetakan asset/ sumber daya sekolah dan mengembangkan aset atau potensi yang bisa dikembangkan untuk merencanakan program yang berdampak pada murid.


MODUL 1.4 - BUDAYA POSITIF

Membiasakan komunikasi dua arah dan nilai-nilai pendidikan karakter untuk mendukung terlaksananya program sekolah yang berdampak pada murid


MODUL 2.1 – PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

Merupakan metode pembelajaran yang berpihak pada murid karena berdasarkan pada pemetaan kebutuhan belajar anak yang beragam. Pemetaan kebutuhan belajar anak menjadi dasar guru dalam mengelola program yang berdampak pada murid. Karena kekuatan anak yang beragam menjadi aset atau modal melakukan diferensiasi program yang berdampak pada murid dan sesuai dengan kebutuhan murid


MODUL 2.2 -  PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL

Merupakan metode pembelajaran tentang bagaimana mencapai tujuan pendidikan mengantarkan anak-anak mencapai kebahagiaan dan keselamatan dengan mengembangkan aspek sosial emosional pada diri anak, teknik mainfulness menjadi strategi pengembangan 5 Kompetensi sosial emosional yang didasarkan pada keberpihakan pada murid dan dilakukan untuk tujuan sebesar-besarnya, memiliki dampak positif pada anak-anak


MODUL 2.3 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

Merupakan sebuah teknik atau strategi seorang pemimpin pembelajaran dalam menuntun murid untuk menggali potensi anak dan memaksimalkannya, memberikan kesempatan murid berkembang dan menggali proses berpikir pada diri. dalam pengelolaan program yang berdampak pada murid maka coaching dapat digunakan sebagai strategi untuk mengembangkan sumber daya murid, mengembangkan kepemimpinan murid, menggali potensi untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu keselamatan dan kebahagiaan murid yang setinggi-tingginya


MODUL 3.1 – PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN

Seorang guru dibekali dengan pengetahuan bagaimana mengambil keputusan. Keputusan yang diambil harus dengan alasan keberpihakan pada murid, dasar prinsip serta paradigma atau nilai dalam pengambilan keputusan, hendaknya bisa mendukung dan tetap dipegang teguh dalam pengambilan keputusan terutama yang berhubungan dengan dilema etika dalam pengelolaan program yang berdampak pada murid


MODUL 3.2 PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA

Seorang pemimpin harus mulai melakukan pemetaan asset. Modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan alam, modal finansial, modal politik, modal agama dan budaya yang dapat dikembangkan di sekolah untuk dimanfaatkan dan dikelola dengan baik, sehingga paradigma berfikir haruslah melihat segala sesuatu dengan sisi yang positif atau berbasis aset dengan berfokus pada apa yang kita miliki/ aset maka pengelolaan program yang berdampak pada murid dapat rencana dengan baik


Setelah melihat keterkaitan antara modul 3.3 dengan modul-modul lainnya, jelaslah perspektif anda tentang program yang berdampak positif pada murid, Bagaimana seharusnya program-program atau kegiatan sekolah harus direncanakan dilaksanakan dan dievaluasi agar program-program tersebut dapat berdampak positif pada murid?


Perspektif saya tentang program yang berdampak positif pada murid.


Program yang berdampak positif pada murid merupakan program sekolah yang dibuat berdasarkan hasil analisis kebutuhan murid, sasarannya adalah murid dan untuk mengembangkan potensi murid seutuhnya, program yang dibuat berdasarkan minat dan harapan dari murid dan untuk memfasilitasi perkembangan potensi yang ada dalam diri murid


Bagaimana seharusnya program-program atau kegiatan sekolah harus direncanakan dilaksanakan dan dievaluasi agar program-program tersebut dapat berdampak positif pada murid?


Dalam menyusun program di sekolah penting sekali dilakukan pemetaan potensi murid. Untuk mempermudah dalam melakukan pemetaan dilakukanlah suatu pendekatan yang berbasis pada asset. Selain pemetaan kompetensi kekuatan / aset yang ada di sekolah dalam pengembangan program ini,  diperlukan juga pemetaan kebutuhan murid dan semua warga sekolah untuk dapat melakukan pemetaan kebutuhan dengan baik, terstruktur dan terarah. Maka diperlukan suatu pendekatan yang baik.  Suatu pendekatan yang dapat menghimpun semua harapan warga sekolah, terutama kebutuhan murid serta berbagai pengalaman baik yang menjadi faktor penentu keberhasilan program di sekolah. Dengan menggunakan model BAGJA, selain memanfaatkan kebutuhan atau kekuatan yang ada di sekolah dalam pengelolaan program yang berdampak pada murid juga harus memperhatikan visi yang merupakan buah kreativitas murid.


3.3.a.6. Demonstrasi Kontekstual - Modul 3.3 Penyusunan Program yang Berdampak pada Murid

Nov 14, 2022

 JUDUL : PROGRAM KELAS IMPIAN



MUQODIMAH
Suasana belajar dan lingkungan belajar sangat menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Murid memerlukan suasana belajar yang menyenangkan. Setiap murid memiliki kelas impian masing-masing, sehingga kita sebagai guru diharapkan bisa menuntun mereka mewujudkan kelas impian itu

Dalam proses pembelajaran agar dapat mencapai tujuan perlu sebuah strategi. Banyak sekali kendala yang kita hadapi terkait dengan iklim belajar kita. Saat ini kita membutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak termasuk murid dan teman sejawat untuk menciptakan kelas impian yang berpihak pada murid. Saat ini bukan saatnya mendikte murid namun memberikan ruang ekspresi dan kebebasan berkreasi dalam menjalani pembelajaran. Murid memerlukan ruang bebas untuk eksplorasi minat dan bakatnya.

APA PROGRAM KELAS IMPIAN ?
Kelas impian adalah program sekolah yang menitikberatkan kepada kemauan siswa dalam mengeksplorasi ide dan gagasan mereka terhadap suasana kelas yang mereka impikan, supaya kegiatan belajar mereka nyaman dan menyemangati mereka dalam kesehariannya

Tujuan : 
1. Kelas impian merupakan program pemberdayaan yang bertujuan mengajak anak-anak mengenali potensinya: menjadi pribadi yang berani dan mampu bermimpi sejak dini.
2. Kelas  impian  adalah gambaran cita-cita  anak agar pembelajaran  di dalam kelas menjadi lebih menyenangkan, ramah dan aman

3. Kelas impian adalah bentuk ekspresi para siswa terhadap lingkungan belajar yang mereka inginkan, Tema Kelas impian dapat berupa sebuah karakter kartun maupun film . Dalam setiap kelas wajib menyediakan pojok baca agar para siswa dapat membaca dan menumbuhkan sikap rajin membaca
4. Kelas Impian  yang dapat membuat siswa lebih kreatif, inovatif dan kolaboratif


BAGAIMANA PROGRAM INI KITA LAKSANAKAN?
Program ini adalah program terjadwal di mana setiap 3 bulan sekali, setiap murid di kelas 7  untuk SMP dan X untuk SMA/SMK akan mengadakan evaluasi berkaitan dengan pelaksanaan  program ini. Jenis kegiatan : intrakurikuler. Jenjang kelas yang ingin menjadi target : kelas 7 untuk SMP, kelas X untuk SMK. Karakteristik lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapat menentukan dan menindak”lanjuti tujuan harapan/mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok maupun golongan

MENGAPA ?
Program ini untuk untuk mewujudkan kelas impian siswa yaitu menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, aman dan menyenagkan. Aksi nyata yang dibutuhkan adalah kelas impian yang diinginkan oleh siswa, menumbuhkan sikap Kerjasama dalam mencapai tujuan dan menumbuhkan motivasi kepada siswa untuk lebih peduli terhadap sesama teman.

ADA 3 ASPEK YANG INGIN DITUMBUH KEMBANGKAN, YAITU :
VOICE :
1.    Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan masukan /saran terhadap impian  kelas yang diinginkan
2.    Memberikan kesempatan kepada siswa  untuk bertanya, berkontribusi dan berdiskusi


COICE :
1. Memberi kesempatan siswa memilih tema apa yang mereka inginkan setiap 3 bulan sekali
2. Memberikan kesempatan siswa untuk mengeksplorasi kemampuan/potensi diri yang mereka miliki
3. Memberi kesempatan siswa untuk memilih peran yang diambil

OWNERSHIP :
1. Mengajak siswa mengatur bentuk/penataan meja kursi kelas dan dekorasi
2. Mengajak siswa berpartisipasi aktif untuk mewujudkan kelas impian
3. Menumbuhkembangkan sikap tanggungjawab dalam mewujudkan kelas impian


DASAR FILOSOFI KHD
Menuntun siswa sesuai dengan kodrat alam dan kodrat jaman sehingga mereka selamat dan dapat memberi manfaat buat orang lain

POIN PROFIL PELAJAR PANCASILA YANG DIKEMBANGKAN :
Mampu bergotongroyong, Kepemimpinan murid untuk terlibat dan berinteraksi dengan orang lain, berkontribusi dalam kehidupannya
Mandiri, Menumbuhkembangkan kepemimpinan murid mendorong murid untuk mengambil control dan bertanggungjwab pada proses pembelajarannya sendiri

KARAKTER LINGKUNGAN PENDUKUNG TUMBUHKEMBANGNYA KEPEMIMPINAN PADA MURID YANG AKAN DIKEMBANGKAN :
Karakteristik lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapat menentukan dan menindak”lanjuti tujuan harapan/mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok maupun golongan

PRAKARSA PERUBAHAN :
Menjadikan kelas yang nyamand dan menyenangkan sesuai dengan impian yang diinginkan oleh siswa sesuai dengan kesepakatan kelas

WAKTU PELAKASANAAN : dilakukan 3 bulan sekali sesuai dengan kesepakatan kelas

PENANGGUNGJAWAB : Pengurus Kelas

TAHAPAN BAGJA :
1. B-uat Pertanyaan (Define)
Pertanyaan ?
Apa yang membuat kelas menyenangkan dan nyaman buat siswa?
Bagaimana kita dapat membuat kelas yang menyenangkan sesuai dengan impian yang diinginkan oleh siswa

Tindakan yang diperlukan untuk mendapat jawaban
Diskusi bersama Kepala Sekolah, teman sejawat, wali  murid, bagaimana program ini dapat berjalan
Dialog dengan teman sejawat, pengalaman apa yang telah dilakukan sehigga kelas menjadi menyenangkan sesuai dengan impian yang diinginkan oleh siswa
Rencana untuk melibatkan suara/pilihan/kepemilikan murid
Melakukan  rapat bersama pengurus kelas untuk menguatan ide di tahap awal
Aset/Kekuatan/sumberdaya yang dapat diberdayakan 
Murid-murid
Rekan Guru
Kepala Sekolah
Wali Murid


2. A-mbil Pelajaran (Discover)
Pertanyaan ?
Model kelas seperti apa yang diinginkan oleh siswa
Aktifitas apa saja yang menarik minat siswa di dalam kelas impian mereka
Tindakan yang diperlukan untuk mendapat jawaban
Survey ke kelas dengan bertanya apakah anak-anak menginginkan kelas seperti apa, sehingga mereka merasa senang
Rencana untuk melibatkan suara/pilihan/kepemilikan murid
Curah pendapat bersama lebih banyak murid untuk  mengetahui kelas impian yang mereka inginkan
Aset/Kekuatan/sumberdaya yang dapat diberdayakan 
Murid
Guru
Sarana prasarana yang ada  di kelas
Bakat minat siswa

3. G-ali mimpi (Dream)
Pertanyaan ?
Apakah kebiasaan-kebiasaan baru akan terjadi ketika telah tercapai ketika kelas impian sudah terwujud
Bagaimana perasaan siswa ketika siswa telah mewujudkan kelas impiannya
Tindakan yang diperlukan untuk mendapat jawaban
Membuat layout/ desain kelas
Merencakan gambar yang akan di gambar untuk membuat kelas menjadi menarik
Menanya perasaan murid tyentang perasaanya setelah nanti mereka bisa mewujudkan kelas impiannya
Rencana untuk melibatkan suara/pilihan/kepemilikan murid
Menanyakan pendapat setiap murid tentang pendapat dan harapan mereka akan kegiatan tentang kelas impian
Meminta siswa untuk membuat layout dan desain tentang kelas impiannya nanti
Aset/Kekuatan/sumberdaya yang dapat diberdayakan 
Guru
Murid 
Saran Prasarana kelas
Potensi yang dimiliki oleh siswa


4. J-abarkan rencana (Design)
Pertanyaan ?
Apa langkah yang akan  dilakukan
Berapa lama target untuk melaksanakan  proses ini
Tindakan yang diperlukan untuk mendapat jawaban
Menyusun bahan-bahan yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan kelas impian ini
Mengkoordinasikan jadwal kegiatan dengan kepala sekolah dan para guru
Rencana untuk melibatkan suara/pilihan/kepemilikan murid
Memberikan pilihan kepada murid tentang layout, desain, gambar yang diperlukan oleh siswa
Mendiskusikan dengan murid waktu pelaksananaan kegiatan
Aset/Kekuatan/sumberdaya yang dapat diberdayakan 
Modal manusia (guru, murid)
Modal Alam (lingkungan kelas dan kelas)
Modal Finansial (kas kelas untuk membeli kelengkapan dalam membuat gambar)

5. A-tur eksekusi (Deliver)
Pertanyaan ?
Siapa yang akan terlibat dalam mewujudkan rencana ini
Apa saja peran yang dibutuhkan dan siapa yang mengisi peran tersebut
Tindakan yang diperlukan untuk mendapat jawaban
Menyusun kepanitiaan kegiatan kelas impian
Menyusun waktu pelaksanaan kegiatan
Menyusun tahapan kegiatan
Rencana untuk melibatkan suara/pilihan/kepemilikan murid
Mengkoordinasikan dengan murid tentang pembagian tugas, waktu dan tahap kegiatan
Mempersilahkan murid untuk melakukan aksi nyata dalam mewujudkan kelas impiannya
Aset/Kekuatan/sumberdaya yang dapat diberdayakan 
Modal manusia (guru, murid)
Modal Alam (lingkungan kelas dan kelas)
Modal Finansial (kas kelas untuk membeli kelengkapan dalam membuat gambar)
Modal sosial (ijin dari bapak kepala sekolah)








JURNAL REFLEKSI DUA MINGGUAN MODUL 3.2 PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN ASET SUMBER DAYA

Nov 8, 2022

 


Model 5 (4C)

        Hari demi hari diklat CGP semakin jauh melangkah. Materi yang disajikan semakin menarik dan membawa kami untuk selalu ingin belajar. Pengelolaan sumber daya yang ada di sekolah menjadi tema utama modul ini. Sebagai CGP mempelajari bagaimana mengelola aset atau sumber daya memerlukan kompetensi yang harus dikuasai. Penguasaan kompetensi yang baik akan mempengaruhi bagaimana CGP yang dalam hal ini sebagai pemimpin pembelajaran dapat memanfaatkan apa saja aset yang dimiliki baik biotik maupun abiotik. Kemampuan mengelola aset yang baik maka akan berdampak pada pembelajarannya semakin lancar dan dapat memenuhi kebutuhan peserta didiknya, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.




        Praktik-praktik pengelolaan pembelajaran yang selama ini CGP praktikkan masih belum berusaha memaksimalkan aset-aset yang ada di sekolah baik biotik maupun abiotiknya. Semua yang diajarkan oleh fasilititaor maupun pendamping praktik, menurut CGP tidak ada yang bertentangan. Jadi konsep pengelolaan aset sebagai pemimpin pembelajaran merupakan hal yang tepat. Pemanfaatan aset yang ada akan membawa dampak perubahan yang lebih cepat daripada menunggu aset yang masih di angan-angan. Pemanfaatan aset yang ada oleh semua komponen akan menggerakkan perubahan yang lebih cepat daripada dilakukan secara sendiri-sendiri. Adapun pelaksanaannya, bahwa pengelolaan aset-aset belum dilakukan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan peserta didik.

        Konsep pengelolaan yang dipelajari dalam modul ini yaitu bagaimana mengidentifikasi aset-aset yang ada kemudian dikelompokkan menjadi kategori-kategori, yaitu: 1) aset manusia; 2)aset sosial; 3) aset fisik; 4) aset politik; 5) aset lingkungan/alam; 6) aset finansial; 7) aset budaya/ agama. Ketujuh aset tersebut dipetakan, kemudian diidentifikasi mana yang dapat dimanfaatkan secara prioritas, dipertimbangkan pula efektifitas dan efisiensinya. Pengelolaan ketujuh aset ini tampaknya mudah, namun membutuhkan komitmen, kontinyuitas, pendekatan yang terencana dengan baik. Pelaksanaan juga harus dikontrol dan diawasi, serta refleksi dan evaluasi juga dijalankan. Sektor yang sudah baik dipertahankan, dan yang belum dapat berfungsi dicari solusinya agar dapat berjalan lancar.
Berbagai perubahan telah saya rasakan setelah CGP mendapat materi modul ini. Perubahan yang saya rasakan yaitu saya jadi memperdulikan aset-aset yang ada di sekolah, kemudian berpikir mana yang dapat difungsikan untuk mendukung pembelajaran di sekolah. Berbagai prinsip pengelolaan aset juga dapat dipegang dan akan dijalankan sebagaimana mestinya ketika aktivitas sehari-hari di sekolah.



JURNAL REFLEKSI DUA MINGGUAN MODUL 3.1 PEMIMPIN PEMBELAJARAN DALAM PENGEMBANGAN SEKOLAH

       Pembelajaran materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran adalah kegiatan yang kita lakukan saat ini. Seorang pemimpin pembelajaran dalam hal ini adalah seorang guru dan kepala sekolah harus mempunyai kompetensi untuk mengambil keputusan. Materi ini mengajak CGP untuk mempelajari dan mempraktikkan dengan temannya maupun pendamping praktiknya. CGP sudah berkali-kali melakukan praktik dengan rekan satu kelompoknya dalam aksi luring. Awalnya yaitu proses diskusi penentuan tema, kemudian praktik secara berpasangan. Pada lokakarya CGP juga melakukan praktik kembali secara berpasangan dengan tujuan untuk menyamakan persepsi dan menerima penguatan dari pendamping praktiknya. Setelah melakukan praktek tersebut CGP dapat meyakini bagaimana praktek pengambilan keputusan secara benar, sesuai dengan tahapan-tahapan yang telah teruji kebenarannya



Pengambilan Keputusan bersama 


CGP sangat senang dengan dibimbing dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Pemahaman beserta penerapannya ini dirasa sangat penting untuk dikuasai, karena sejatinya pengambilan keputusan di tengah dilema etika maupun konflik ini biasa ditemukan dan dihadapi dalam lingkungan kerja masing-masing. Semua mempunyai permasalahan sendiri-sendiri dan berbeda pula kondisinya. Teori pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dapat diterapkan di situasi apapun, asalkan dapat menerapkan prinsip-prinsipnya beserta identifikasi permasalahannya. CGP terlihat senang dalam melakukan praktik pengambilan keputusan tersebut karena dirasa sulit di awal namun setelah melakukan proses dan keputusannya tercapai terasa sangat mengasikkan dan menyenangkan.

Proses pemberian materi dan pendampingan dari instruktur terasa nyaman untuk diikuti, karena kecakapan mereka dalam mengelola pembelajaran dan menariknya materi yang disajikan serta penggunaan media pembelajaran kekinian. Adapaun isi dari materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran adalas sebagai berikut.
 a. Paradigma dilema etika yang berisi perasaan benar lawan benar. Dilema etika tersebut yaitu:
1) Individu lawan masyarakat: hal ini mempunyai pengertian bahwa terdapat situasi yang bertentangan namun benar melawan benar di mata individu dan masayarakat. 
2) Rasa keadilan lawan rasa kasihan: dilema ini di satu sisi menuntut keadilan sesuai peraturan, sisi lainnya merasa kasihan untuk melaksanakan aturan karena disebabkan suatu hal.
3) Kebenaran lawan kesetiaan: paradigma ini dihadapkan pilihan antara kebenaran yang sesuai peraturan terhadap rasa setia kawan yang sedang tidak bisa melaksanakan peraturan sesungguhnya.
4) Jangka pendek lawan jangka panjang: sebuah dilema yang bertentangan antara harus dilakukan sekarang namun merugikan jangka panjang atau tidak dilakukan namun merugikan jangka pendek.
b. Terdapat 3 prinsip resolusi, yaitu:
1) Berpikir berbasis hasil akhir : menyelesaikan masalah dengan berpedoman hasil akhir.
2) Berpikir berbasis peraturan: menyelesaikan masalah dengan berpedoman pada peraturan.
3) Berpikir berbasis rasa peduli: menyelesaikan masalah dengan berpedoman terhadap rasa peduli.
c. Prosedur pengambilan keputusan harus melewati tahapan, yang terdiri dari 9 langkah, yaitu:
1) Mengenali nilai-nilai yang bertentangan: mengidentifikasi nilai-nilai yang bertentangan pada suatu kasus.
2) Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi itu: mengidentifikasi orang-orang yang terlibat dalam kasus ini.
3) Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini: mengidentifikasi fakta-fakta yang sudah digali sedetai-detailnya.
4) Pengujian benar atau salah: melakukan serangkaian uji mulai dari uji legal, resolusi, intuisi, publikasi dan panutan/ idola.
5) Pengujian paradigma benar lawan benar: menentukan paradigama apa yang tepat pada kasus tersebut.
6) Melakukan prinsip resolusi: menentukan prinsip resolusi sebagai pedoman pokok dalam pengmbilan keputusan.
7) Investigasi opsi trilema: mencari pilihan lain di luar hal yang diduga sebelumya.
8) Buat keputusan: dari beberapa serangkaian uji di atas baru diambil keputusan yang terbaik.
9) Lihat lagi keputusan dan refleksikan: setelah selesai dijalankan kemudian dilhat lagi keputusan tersebut apakah efektif dan efisien untuk dijalankan. Proses refleksi dipakai untuk menentukan proses berikutnya.
CGP akan terjun praktek sesungguhnya di sekolah dan masayarakat. Ilmu yang sudah dikuasai akan berguna bagi CGP untuk mengambil keputusan sebagai pembelajaran baik di sekolah, keluarga maupun masyarakat. Seorang guru banyak berperan sebagai pemimpjn pembelajaran dalam kehidupan di keluarga, masyarakat dan sekolah. Semakin banyak guru-guru yang menguasai cara pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, maka persoalan-persoalan di keluarga, sekolah dan masyarakat akan terbantu penyelesaiannya secara lebih akurat.

JURNAL REFLEKSI 2.3. COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

Nov 5, 2022


Proses Coaching

Pada Jurnal Refleksi kali ini penulis akan menyusun dengan menggunakan model  yaitu Connection, Challenge, Concept, Change (4C). Model yang dikembangkan Ritchhart, Church dan

Morrison pada tahun 2011. Aktivitas pembelajaran yang dilakukan meliputi :


Mulai dari diri modul 2.3. Coaching Eksplorasi konsep mandiri modul 2.3. Coaching Model refleksi 4C memiliki beberapa pertanyaan kunci yang akan memandu pembuatan refleksi. Adapun jawaban pertanyaan kunci model 4C dideskripsikan sebagai berikut:



1. Connection


Mulai dari Diri - Seberapa Jauh Saya Memahami Konsep Coaching di sekolah?


Saya mengidentifikasi pengetahuan dan pengalaman yang menggambarkan praktik coaching di dunia pendidikan. Materi ini sangat relevan dengan peran saya sebagai guru penggerak karena di aktivitas pembelajaran mulai dari diri saya belajar mengeksplorasi diri dalam merespon secara cepat kasus-kasus yang mungkin terjadi dalam keseharian saya sebagai pendidik yang menghambat terhadap tujuan pembelajaran murid. Saya belajar untuk menanggapi beberapa kasus yang ada di Learning management system (LMS). b. Eksplorasi Konsep Modul Coaching Pada kegiatan Eksplorasi Konsep, saya melalui beberapa proses kegiatan mandiri untuk mempelajari materi melalui kegiatan membaca dan menjawab pertanyaan, dan diskusi asinkron untuk menguatkan pemahaman terkait materi yang dipelajari. Adapun materi yang akan dipelajari adalah: Konsep Coaching dalam Konteks Pendidikan Komunikasi Yang Memberdayakan TIRTA Sebagai Model Coaching. Materi-materi tersebut sangat dibutuhkan oleh seorang guru penggerak dalam melakukan pelayan prima kepada murid dan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi murid. Eksplorasi konsep sangat bagus proses mendewasakan diri dalam menggali pengetahuan dan pengalaman terkait pengertian coaching, Coaching dalam Konteks Sekolah, dan Perbedaan antara Coaching, Konseling, dan Mentoring dalam Konteks Pendidikan. Komunikasi asertif, tehnik Mendengarkan aktif, dan Bertanya efektif serta TIRTA sebagai model coaching yang memiliki kepanjangan dari T nya adalah Tujuan; I nya adalah Identifikasi; R adalah Rencana aksi; dan TA adalah Tanggung jawab.


2. Challenge


Di aktivitas pembelajaran ini calon guru penggerak diketuk hati untuk melakukan pemetaan kebutuhan belajar murid setiap akan melakukan pembelajaran dan memperhatikan social emosional untuk mengembalikan focus sehingga pembelajaran dilakukan dapat memaksimalkan karakteristik, potensi dan keunikkan murid, Selama ini pembelajaran atau praktik baik yang dilakukan baik dengan cara berkomunikasi, bertanya dan proses pendampingan belum menyentuh secara mendalam. Kebiasaan yang guru lakukan dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi murid selalu langsung diberikan solusi atau dengan redaksi seperti ini "kalau bapak/ibu guru dulu jika mengalami masalah ini selalu melakukan ini dan berhasil" (memberikan solusi dengan pengalaman), tanpa menggali potensi/kemampuan apa yang dimiliki murid dan dapat dioptimalkan untuk menyelesaikan masalah yang hadapi murid itu sendiri. Guru hanya menggali optimalisasi potensi murid.


3. Concept


Kebanyakan proses pembelajaran dilakukan guru masih berpusat kepada guru dan cara jitu dalam mengajar jitu hanya berdasarkan pengalaman. Padahal sangat penting bagi seorang guru melakukan pembelajaran yang didasarkan pada kebutuhan belajar murid baik dari minat belajar, kesiapan belajar atau profil belajar murid. selain itu banyak pengetahuan baru dari aktivitas belajar modul pembelajaran social emosional ketika kita menghadapi bertumpuknya tanggung jawab yang menimbulkan stress dan emosi. Di aktivitas ini diajarkan bagaimana mengenal, mengelola, mengendalikan emosi, menumbuhkan rasa empati kepada siapapun khususnya murid, berdaya lenting dan menentukan pilihan/keputusan yang bertanggung jawab. Faidahnya kita bisa mengembalikan focus dan menyelesaikan pekerjaan sesuai target yang diharapkan. Di aktivitas pembelajaran minggu ke-14 diajarkan konsep yang sangat penting bagi guru untuk memainkan perannya secara maksimal seperti komunikasi asertif. Komunikasi yang didasarkan atas kemampuan individu untuk mendengarkan sudut pandang orang dan merespon dengan dengan penuh kejujuran dan rasa hormat serta menghargai. Selain itu saya belajar menjadi penanya efektif dan pendengar aktif yang akan membantu menciptakan proses coaching berjalan sesuai tujuan dan harapan. Coaching sebagai dasar untuk menggali dan mendorong potensi yang dimiiki coachee  untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.


4. Change Perubahan yang dilakukan oleh saya mulai belajar untuk menyusun rencana pembelajaran yang mengintegrasikan pembelajaran social emosional dan pembelajaran berdiferensiasi dan mengaplikasikannya di kelas. Selain itu, akan menggerakkan teman sejawat untuk mengintegrasikan

pembelajaran berdiferensiasi serta kompetensi sosial emosional dalam praktik baik di kelas. Saya akan Mengubah cara berkomunikasi saya dengan komunikasi asertif. Selalu melakukan coaching terhadap penyelesaian masalah yang dihadapi murid dengan menjadi penanya efektif dan pendengar aktif.


SALAM GURU PENGGERAK


AAN PUJIYONO TIMORENTI, S.Pd

CGP ANGKATAN 5

KABUPATEN NGAWI


Jurnal Refleksi Dua Mingguan Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional Guru Penggerak

Nov 4, 2022

Assalamualaikum wr.wb.

Salam dan Bahagia,


Alhamdulillah pada kesempatan kali ini saya menuliskan refleksi diri terkait dengan pembelajaran modul 2.2 program pendidikan guru penggerak angkatan 5 tentang Pembelajaran Sosial dan Emosional.

Pembaca yang berbahagia, menuliskan jurnal refleksi dwi mingguan merupakan salah satu tugas yang harus dilaksanakan oleh seorang calon guru penggerak.




Adapun model yang saya gunakan dalam penulisan jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) menggunakan Model 4F (Facts, Feelings, Findings, Future) antara lain :


1. Facts (Peristiwa)

Pengalaman : Pada minggu ini kami melakukan kolaborasi dalam menerapkan Pembelajaran Sosial Emosional yang sudah dilakukan dan yang akan dilakukan. Kami membuat kegiatan kompetensi kesadaran diri dan Keterampilan Berelasi . Pada setiap kompetensi dibuat dalam ruang lingkup secara rutin, terintegrasi dalam pembelajaran, dan protokol.

Hal Baik : Dalam kegiatan PSE ini membuat murid mengenal emosinya dan berbagi untuk mengelola emosi untuk lebih baik, menunjukkan integritas dan kejujuran dapat menghubungkan perasaan, pikiran, dan nilai-nilai.

Hambatan : Ada beberapa murid masih mempunyai emosi negatif tetapi tidak mau terbuka dan kurang mempedulikan pendapat dari temannya.

Solusi : Melakukan kegiatan stimulasi kepada murid agar dapat mengelola emosi negatif dan memberikan masukan, arahan pada murid secara lebih sistematik dan komprehensif agar lebih fokus dalam pembelajaran. 


2. Feelings (Perasaan) 

Pembelajaran    : Saya merasa senang dan bahagia karena penerapan pembelajaran sosial dan emosional ini murid menjadi lebih antusias dalam mengikuti setia kegiatan pembelajaran dan dapat menumbuhkan perasaan yang lebih tenang serta pikiran yang lebih jernih, yang akan berpengaruh pada keputusan yang lebih responsif dan reflektif dari diri murid. 

Penerapan PSE : Melakukan pendekatan emosianal yang dapat mendorong murid menjadi lebih berimpati, percaya diri, dan  partisipatif dalam setiap kegiatan pembelajaran sehingga lebih optimal dan menimbulkan perasaan senang dan menyenangkan. 


3. Findings (Pembelajaran) 

Pelajaran dari Proses PSE :  Pembelajaran Sosial dan Emosional, murid dapat menyadari, melihat, mendengarkan, merasakan, mengalami berbagai pengalaman belajar yang dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosionalnya. Dampak pembelajaran sosial dan emosional dapat meningkatkan performa akademik murid dalam jangka panjang.

Hal baru tentang diri saya : Saya dapat menemukan bahwa melalui pembelajaran sosial dan emosinal ini dapat membantu  menciptakan pembelajaran yang efektik dan menyenangkan. 


4. Future (Penerapan) 

Hal serupa di masa depan : Penerapan KSE dengan teknik yang berbeda dan disesuaikan dengan kodrat alam dan zaman dari setiap individu murid. 

Aksi setelah belajar PSE    : Melakukan berbagai kegiatan praktik baik Pembelajaran Sosial dan Emosional di komunitas praktisi untuk membangun budaya positif di kelas maupun di lingkungan sekolah untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan dapat membahagiakan murid.

Demikian jurnal refleksi dwi mingguan modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial dan Emosional, semoga kita sebagai guru dapat menerapkan Pembelajaran Sosial dan Emosional di kelas.

Semoga bermanfaat.


Wassalamualaikum wr.wb.


AAN PUJIYONO TIMORENTI, S.Pd

CGP ANGKATAN 5

KABUPATEN NGAWI


JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN 2.1 PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

 Di Modul ini saya mengikuti pembelajaran dan aktivitas  yang telah ditampilkan di Learning Management System (LMS). Ada beberapa aktivitas pembelajaran yaitu :



2.1.a.5.2. Ruang Kolaborasi 2 Google Meet; 

2.1.a.6. Refleksi Terbimbing - Modul 2.1; 

2.1.a.7. Demonstrasi Kontekstual - Modul 2.1; dan 

2.1.a.8. Elaborasi Pemahaman - Modul 2.1. 




Dalam Jurnal Refleksi kali ini, saya menggunakan model 4F (Facts, Feelings, Findings, Future).


Fact 

Aktivitas pertama yaitu mempresentasikan hasil kolaborasi pertemuan sebelumnya tentang membuat RPP berdiferensiasi. Di hari kedua, saya melakukan Refleksi terbimbing. Kami diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan pemantik yang makin memperkuat kami meningkatkan pemahaman terkait pembelajaran berdiferensiasi. Aktivitas ketiga yaitu demonstrasi kontekstual. Di aktivitas ini kami diminta membuat Rencana pembelajaran berdiferensiasi dan mengevaluasi efektivitas RPP yang dibuat oleh sesama rekan CGP. 

Aktivitas penutup yaitu Elaborasi Pemahaman, mengelaborasi pemahamannya tentang pembelajaran berdiferensiasi lewat proses tanya jawab dan diskusi. Ruang untuk menyampaikan keraguan dan persepsi tentang potensi hambatan dalam implementasi. 


Feeling

Saya senang dan semangat mengikuti aktivitas pembelajaran ini. Saya jadi mampu menyusun RPP berdiferensiasi. Paham bagaimana menyusun pembelajaran yang menyelaraskan dengan karakteristik peserta didik sekolah saya. Mulai tergambar treatment seperti apa yang dapat diambil oleh saya sebagai bentuk tindakan yang mempertimbangkan kebutuhan belajar peserta didik. Meskipun ada keraguan terhadap proses dan alokasi waktu dalam pembelajaran.


Finding

Diminggu ini saya menemukan Informasi, pengetahuan dan pengalaman baru  sebagai calon guru penggerak pemimpin pembelajaran. Salah satu aplikasi nyata bagaimana seorang guru harus menghamba pada anak adalah mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Pembelajaran yang mengakomodir seluruh kebutuhan peserta didik dari minat, kesiapan belajar dan profil belajar peserta didik. 

Ada keadilan dalam bentuk yang nyata, jika lingkungan yang mana guru dan siswa berkolaborasi dalam membangun pertumbuhan dan kesuksesan bersama, dan membangun atsmosfir lingkungan kelas yang positif.


Future

Saya akan coba memperhatikan kemampuan siswa dalam memilih  aktifitas  belajar  yang  sesuai  dengan  gaya  belajar  yang  dimiliki  yang bisa membantu   menghindarkan   siswa   dari   pengalaman   belajar   yang   tidak   tepat, membosankan  dan  cenderung  pasif. Oleh  karena  itu  penting  bagi  siswa  untuk memahami gaya belajar yang dimilikinya agar siswa mampu belajar secara aktif dan efektif serta dapat melakukan improvisasi setiap proses belajar. 

Saya juga akan lebih mempersiapkan kelas dengan kondisi siswa sampai benar-benar siap menerima pelajaran. Dan yang paling penting adalah setelah mengetahui kebutuhan belajar siswa seperti yang tersebut di atas, maka saya harus mendiferensiasikan proses, konten dan hasil belajar siswa sesuai dengan kemampuan dan potensinya. 


SEMOGA BERMANFAAT 


AAN PUJIYONO TIMORENTI, S.Pd
CGP ANGKATAN 5
KABUPATEN NGAWI

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.4 : BUDAYA POSITIF

Pada refleksi minggu ini, saya memilih model refleksi 4F, yaitu model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P, dengan pertanyaan sebagai berikut :



Facts (Peristiwa)

Pengalaman > Pada minggu ini kami memulai pembelajaran pada modu 1.4 tentang Budaya positif. Melalui kegiatan Mulai dari diri dan Eksplorasi konsep, kami mempelajari modul secara mandiri di LMS dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di LMS Modul 1.4.a.4. Kegiatan pada minggu ini ditutup dengan Kerja Kelompok pada kegiatan Ruang Kolaborasi. Kegiatan diskusi kelompok membahas tentang studi kasus budaya positif yang didampingi oleh  oleh fasilitator, dimana kami dibagi dalam 2 kelompok dengan tugas masing-masing kelompok adalah menganalisis 2 kasus yang berbeda.

Hal Baik > Melalui kegiatan Mulai dari diri dan Eksplorasi konsep tentang Budaya Positif, saya mendapat pengetahuan baru tentang paradigma stimulus respon dan teori kontrol.  Dengan mempelajari secara mandiri tentang stimulus respon dan teori kontrol, saya termotivasi untuk memahami dan menerapkan perubahan paradigma stimulus respon menjadi teori kontrol.

Hambatan > Gangguan jaringan internet (down) dan gangguan PLN pada minggu ini menjadi hambatan yang sangat meresahkan, karena kegiatan di LMS juga ikut terganggu. Berkali-kali tugas LMS dikirimkan namun selalu gagal terkirim. 


Yang saya lakukan dalam mengatasi hambatan > Saya terus berupaya tak henti-hentinya mengirim tugas di LMS sampai benar-benar terkirim walaupun harus saya lakukan berulang-ulang. Walaupun sudah mulai timbul kebosanan, namun karena masih ada tekad yang kuat dalam hati, maka kebosanan kalah karena tekad. Sedangkan untuk memahami materi, saya mengantisipasi gangguan jaringan internet dan gangguan PLN dengan cara melakukan download materi,  copy paste materi, dan/atau melakukan tangkapan layar, kemudian saya cetak (print) agar saya lebih mudah  memahaminya.



Feelings (Perasaan)

Kegiatan pembelajaran modul 1.4 pada minggu ini bagi saya lebih rumit daripada modul 1.1, 1.2, dan 1.3. Ada beberapa materi yang benar-benar harus saya pelajari dan fahami berulang-ulang agar saya yakin bahwa saya telah memahami materi pada modul 1.4 ini. 


Findings (Pembelajaran)

Melalui eksplorasi konsep Budaya positif terdapat 6 bagian materi yang harus dipahami, yaitu : (1) Perubahan Paradigma -Stimulus Respon lawan  Teori Kontrol: (2) Arti Disiplin dan 3 Motivasi Perilaku Manusia; (3) Keyakinan Kelas, Hukuman dan Penghargaan; (4) Lima (5) Kebutuhan Dasar Manusia; (5) Lima (5) Posisi Kontrol; dan (6) Segitiga Restitusi

Dengan demikian saya harus mampu :

memahami miskonsepsi tentang kontrol dan selanjutnya mengadakan perubahan paradigma stimulus-respon menjadi teori kontrol. Saya juga harus mampu melakukan refleksi atas penerapan praktik disiplin yang dijalankan di sekolah.

memahami konsep disiplin positif dihubungkan dengan teori motivasi perilaku manusia, serta konsep motivasi internal dan eksternal.

memahami pentingnya memiliki keyakinan kelas sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah sekolah/kelas, yang akan menjadi landasan dalam memecahkan konflik atau permasalahan di dalam sebuah sekolah/kelas, yang pada akhirnya akan menciptakan budaya positif.

memahami bahwa setiap tindakan murid dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka yang berbeda-beda dan agar menjadi individu yang selamat dan bahagia, kebutuhan dasar harus terpenuhi secara positif. Saya juga harus memahami bahwa kebutuhan dasar dapat dipenuhi dengan cara positif atau negatif oleh karena itu peran guru adalah memberdayakan anak agar dapat memenuhi kebutuhannya secara positif.

melakukan refleksi atas praktik disiplin yang dijalankan selama ini dan dampaknya untuk murid-murid saya. Saya dapat mengetahui dan menerapkan disiplin restitusi di posisi Monitor dan Manajer agar dapat menciptakan lingkungan positif, aman, dan nyaman dan dapat menghasilkan murid-murid yang lebih mandiri, merdeka, dan bertanggung jawab.

memahami dan menerapkan restitusi melalui tahapan dalam segitiga restitusi sebagai salah satu cara menanamkan disiplin positif pada murid sebagai bagian dari budaya positif di sekolah agar menjadi murid merdeka.


Future (Penerapan)

Menanam keyakinan :

YAKIN bahwa saya mampu menerapkan perubahan paradigma stimulus respon menjadi teori kontrol.

YAKIN bahwa saya mampu bersikap reflektif, kritis, kreatif, dan terbuka dalam menganalisis motivasi yang saya miliki menurut teori motivasi perilaku manusia

YAKIN bahwa saya mampu menerapkan proses pembentukan dari peraturan-peraturan beralih ke keyakinan kelas.

YAKIN bahwa saya mampu berperan memberdayakan anak agar dapat memenuhi kebutuhannya secara positif.

YAKIN bahwa saya mampu menerapkan disiplin restitusi di posisi Monitor dan Manajer agar dapat menciptakan lingkungan yang positif, aman, dan nyaman.

YAKIN bahwa saya mampu menerapkan restitusi dalam membimbing murid berdisiplin positif agar menjadi murid merdeka.  

Sehingga visi saya mengenai murid dan sekolah impian dapat terwujud.


Link : Aksi Nyata BUDAYA POSITIF

https://youtu.be/ur3w9YgUV9Q


Semoga Bermanfaat


AAN PUJIYONO TIMORENTI, S.Pd

CGP ANGKATAN 5

KABUPATEN NGAWI


JURNAL DWI MINGGUAN MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK

Setelah saya menjalani pembelajaran dari modul 1.1, modul 1.2, dan modul 1.3  ini, berikut adalah hal yang menjadi pembelajaran bagi saya:

Murid Idamanku

1.     Momen yang paling penting dan menantang dalam proses pembelajaran modul 1.1 hingga modul 1.2  da 1.3 yang saya fahami adalah: menjadikan filosofi KHD sebagai dasar untuk menjadikan saya sebagai seorang guru penggerak yang tergerak, bergerak dan menggerakkan. Disana saya harus memahami bagaimana karakter siswa saya, bagaimana saya memotivasi siswa saya, dan bagaimana saya harus mendukung dan mngembangkan semua kreativitas dan yang ada pada anak sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Selain itu untuk mewujudkan filosofi KHD saya harus  menjadi seorang guru penggerak yang memiliki otak luhur manusia agar kita seorang guru penggerak yang bijaksana dalam mengambil segala tindakan. Hal itu terjadi karena dengan kita memiliki otak luhur manusia maka pembelajaran dengan filosofi KHD dan siswa yang memiliki profile Pancasila akan tercapai. Hal itu akan saya tuangkan dalam visi saya sebagai guru penggerak. Visi guru penggerak dapat diwujudkan dalam pembuatan BAGJA prakarsa perubahan. Visi saya sebagai guru penggerak adalah mengembangkan sekolah ramah anak melalui disiplin positif.


2.     Perasaan saya saat mempelajari modul 1.1, modul 1.2, dan modul 1.3 sangat senang sekali karena saya bisa mempelajari ilmu baru dan menyadari tentang kesalahan-kesalahan yang sudah saya lakukan. Selain itu dapat ilmu baru bagaimana cara kita membuat suatu visi guru penggerak, karena tidak bisa asal membuatnya. Ada langkah yang harus dilakukan sesuai dengan aturannya.


3.     Saat itu saya seakan-akan menjadi guru yang mudah emosian atau menerapkan otak mamalia saya, atau memiliki emosi yang tidak terkontrol dengan kata lain melakuka sesuatu ingin cepat-cepat selesai tetapi saya tidak berfikir lebbih panjag lagi untuk mecerna apa akibat dari tindakan yang sudah saya lakukan. Saya seakan-akan menjadi jamur dan ulat untuk anak-anak saya karena saya telah membunuh karakter yang seharusnya berkembang pada siswa saya Setelah mempelajari modul 1.1 hingga modul 1.3 ini, saya harus bertekad untuk memiliki visi guru penggerak yang natinya akan membawa suatu perubahan yang positif. Dan saya harus berkolaborasi dengan steakholder sekolah untuk mewujudkan visi guru penggerak tersebut.




4.     Pengembangan diri yang sederhana, konkret dan rutin yang dapat saya lakukan sendiri dari sekarang untuk membantu menguatkan nilai-nilai dan peran saya sebagai Guru Penggerak adalah: Di dalam pembelajaran yang saya lakukan di dalam kelas saya bertekad untuk menciptakan kelas yang nyaman, aman dan menyenangkan. Dengan keadaan kelas yang aman dan menyenangkan maka akan meningkatkan mood positif dari siswa saya, jika mood positif sudah muncul maka siswa akan dapat dengan mudah memahami apa yang akan dipelajari. Di awal pembelajaran telah dilakukan keyakinan kelas yang isinya harapan dan kekhawatiran dari para siswa, sehingga kita tahu apa yang diinginkan oleh siswa. Dan dari keyakinan kelas tersebut akan muncul kepakatan-kesepakatan dan konsekuensi yang akan dilakukan. Nah dari situlah siswa akan berfikir kembali untuk melakukan sesuatu yang negatif yang sudah disepakati, dan siswa cenderung akan melakukan konsekuensi yang sudah disepakati tanpa tertekan dan dengan kesadarannya sendiri. Dari latar belang itulah, visi guru penggerak saya adalah: terwujudnya peserta didik yg beriman bertakwa dan berakhlak mulia yang memiliki profil pelajar pancasila dan dapat belajar dengan nyaman. Hal itu untuk mewujudkan Sekolah Ramah Anak melalui disiplin positif.


AAN PUJIYONO TIMORENTI, S.Pd

CGP ANGKATAN 5

KABUPATEN NGAWI


3.2.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 3.2

Nov 3, 2022

1. kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan ‘Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya’ dan bagaimana Anda bisa mengimplementasikannya di dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah

Sebagai seorang pemimpin baik di kelas maupun di sekolah, kita harus mampu mengidentifikasi dan mengelola segala sumber daya (aset) yang dimiliki oleh sekolah untuk dapat dijadikan sebagai keunggulan sekolah dalam rangka mendukung perwujudan visi dan misi sekolah.

 

Sekolah sebagai sebuah ekosistem adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. 
Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah antara lain sebagai berikut.
1. Murid
2. Kepala Sekolah
3. Guru
4. Staf/Tenaga Kependidikan
5. Pengawas Sekolah
6. Orang Tua
7. Masyarakat sekitar sekolah

Selain faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan, faktor-faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Faktor abiotik yang ada dalam ekosistem sekolah antara lain sebagai berikut  :
1. Keuangan
2. Sarana dan prasarana

Dalam rangka mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid, sekolah akan berhasil jika mampu memandang segala aset (sumber daya) yang dimiliki sebagai sebuah keunggulan bukan memandang sebagai sebuah kekurangan. Sekolah akan berfokus pada pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya yang dimiliki tanpa lebih banyak memikirkan pada sisi kekurangan yang ada. Dalam pengelolaan sumber daya yang dimiliki oleh sekolah ada 2 pendekatan yang dapat dilakukan yaitu:

1. Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking). 
Pendekatan ini akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja. Segala sesuatunya akan dilihat dengan cara pandang negatif. Kita harus bisa mengatasi semua kekurangan atau yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih. Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang terbiasa untuk merasa tidak nyaman dan curiga yang ternyata dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.


2. Pendekatan berbasis aset (Asset-Based Thinking) 
adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri. Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.  

Berikut perbedaan antara pendekatan berbasis kekurangan dengan pendekatan berbasis aset.



2. hubungan pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas. 

Dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya sebaiknya sekolah lebih menekankan pada pendekatan berbasis aset. Selanjutnya pendekatan ini lebih dikenal dengan Pendekatan Komunitas Berbasis Aset (PKBA).  

Pendekatan PKBA menekankan dan mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna. Pendekatan PKBA menekankan kepada kemandirian dari suatu komunitas untuk dapat menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dengan bermodalkan kekuatan dan potensi yang ada di dalam diri mereka sendiri, dengan demikian hasil yang diharapkan akan lebih berkelanjutan. Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset berfokus pada potensi aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas. Selama ini komunitas sibuk pada strategi mencari pemecahan pada masalah yang sedang dihadapi. Pendekatan PKBA merupakan pendekatan yang digerakkan oleh seluruh pihak yang ada di dalam sebuah komunitas atau disebut sebagai community-driven development.

Menurut Green dan Haines (2002) dalam bukunya yang berjudul Asset Building and Community Development, ada 7 aset utama atau di dalam buku ini disebut sebagai modal utama,


Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pemimpin dalam pengelolaan sumber daya merupakan sebuah kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dalam mengelola dan memanfaatkan berbagai aset-aset yang dimiliki oleh sekolahnya dalam rangka mewujudkan visi dan misi sekolah untuk mencapai peningkatan mutu pendidikan di sekolah dan mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid

Untuk dapat mengimplementasikan modul pemimpin dalam pengelolaan sumber daya di kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah, maka seorang pemimpin harus mampu bersinergi dengan semua pihak yang ada di sekolah baik dewan guru, staff, siswa, orang tua siswa, dan juga masyarakat sekitar sekolah untuk dapat secara bersama-sama menginventarisir/memetakan segala sumber daya (aset) yang dimiliki sekolah dan menjadikan segala aset tersebut sebagai kekuatan yang dimiliki oleh sekolah untuk dikelola dan dimanfaatkan dalam rangka meningkatkan mutu sekolah. 

Salah satu aset yang paling utama yang dimiliki sekolah yaitu modal manusia. Jika modal manusia ini mampu dimanfaatkan dan dikelola dengan baik maka mutu pendidikan di sekolah akan meningkat. 

Seorang pemimpin sekolah harus mampu menggerakkan guru-guru yang ada di sekolah untuk dapat melaksanakan pembelajaran yang aktif, kreatif, menyenangkan, dan juga pembelajaran berdiferensiasi, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru lebih berpihak pada murid. Dengan sekolah mampu mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid maka segala minat, bakat, dan potensi yang dimiliki oleh murid akan dapat berkembang dengan maksimal.

3. Kaitan Modul 3.2 dengan Materi pada Modul Sebelumnya 

Kaitan dengan Modul Refeleksi Filosofis Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara
Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan adalah suatu proses memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Seorang pemimpin harus mampu mengelola salah satu aset yang dimiliki sekolah yaitu modal manusia (guru dan murid). Pemimpin harus memastikan para gurunya melaksanakan pembelajaran yang berpihak kepada murid sehingga murid dapat berkembang sesuai kodratnya (kodrat alam dan kodrat zaman). Dengan demikian maka murid akan dapat memaksimalkan minat, bakat, dan potensi yang dimilikinya sebagai bekal mereka dalam menjalani kehidupannya.



Kaitan dengan Modul Nilai dan Peran Guru Penggerak
Seorang pemimpin harus mampu memastikan modal manusia yang dimiliki sekolah utamanya guru agar dapat menerapkan nilai-nilai guru penggerak dalam kesehariannya seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Dengan diterapkan nilai-nilai ini maka sekolah akan dapat mewujudkan murid yang memiliki profil pelajar Pancasila yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kebhinekaan global, bergotong royong, serta kreatif


Kaitan dengan Modul Visi Guru Penggerak
Materi pada modul ini (Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya) juga berkaitan dengan materi visi guru penggerak. Seorang pemimpin harus mampu menyusun visi dan misi yang jelas, terarah dan tentunya visi yang disusun tersebut harus berpihak pada sumber daya yang dimiliki sekolah utamanya guru dan juga murid. Melalui penerapan Inkuiri Apresiatif dengan menggunakan tahapan BAGJA, seorang pemimpin akan dapat melakukan perubahan sekolah berbasis sumber daya yang akan menggerakkan warga sekolah untuk melakukan perubahan positif. Perubahan positif yang dilakukan secara konsisten akan melahirkan budaya positif dengan demikian modul ini pun berkaitan dengan modul 1.4 tentang budaya positif. 



Kaitan dengan Modul Pembelajaran Berdiferensiasi, Sosial Emosional, dan Coaching 
Dalam melaksanakan pembelajaran seorang pemimpin harus mampu melasanakan pembelajaran yang sesuai dengan minat, bakat, dan profil siswa atau yang dikenal dengan pembelajaran berdiferensiasi. Untuk dapat melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi ini maka seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk memetakan aset/sumber daya yang dimiliki utamanya aset manusia yaitu siswa. Sehingga pembelajaran yang dilaksanakannya akan bermakna bagi siswa.

Potensi-potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh siswa dapat kita kembangkan lebih jauh lagi dengan memperhatikan sisi sosial emosional siswa. Sebagai seorang pemimpin kita harus memahami sisi sosial emosional siswa, sehingga ketika ada siswa kita yang mengalami permasalahan maka kita akan dapat memberikan layanan berupa coaching. Coaching bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menggali potensi-potensi yang dimiliki siswa untuk dapat dikembangkan. Dengan demikian maka siswa akan dapat berkembang dengan maksimal. 




Kaitan dengan Modul Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran
Pada modul ini seorang pemimpin sudah mempelajari bagaimana caranya mengambil sebuah keputusan dengan sebaik-baiknya ketika berada dalam situasi dilema etika. Ada 9 langkah yang harus dilewati ketika mengambil dan menguji keputusan. Dalam pengelolaan sumber daya/aset juga dibutuhkan kemampuan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan saat melaksanakan pengelolaan sumber daya yang dimiliki.



4. Hubungan antara sebelum dan sesudah Anda mengikuti modul ini, serta pemikiran apa yang sudah berubah di diri Anda setelah Anda mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini

Perkembangan sekolah tidak lepas dari asset yang dimiliki, ada 7 aset yang dapat dikembangkan dalam meningkatkan kapasitas sekolah ke arah baik. Sebelumnya saya hanya mengetahui hanya ada asset manusia dan fisik, ternyata disini ada 7 aset yang dapat kami kembangkan, dengan 7 aset yang ada dan kita miliki tentunya hal  ini akan mempermudah kita dalam mengelola ekosistem sekolah. Antara asset yang satu dengan asset yang lain harus saling melengkapi. Dan tugas kitas sebagai guru penggerak dan juga sebagai pemimpin adalah menggerakan asset yang ada demi kemajuan sekolah yang kita miliki.

Demikianlah tugas modul 3.2.a.8 tentang Koneksi Antar Materi Modul Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya yang dapat kami bagikan. 
Semoga bermanfaat.

Aan Pujiyono Timorenti, S.Pd
CGP Angkatan 5
Kabupaten Ngawi